hit tracker

Kasusnya di Solo, Esok Sidang Perdana Jurnalis Ranu Muda Digelar di PN Semarang


Ranu Muda Adi Nugroho

SEMARANG (SALAM-ONLINE): Kasus kriminalisasi anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Ranu Muda Adi Nugroho akan mulai disidangkan secara perdana pada esok, Selasa (21/3) di Pengadilan Negeri Semarang, Jl. Siliwangi No. 512, Kembangarum, Semarang Barat, Jawa Tengah.

Sebelumnya, aparat kepolisian menangkap Ranu Muda pada Kamis, 22 Desember 2016 sekitar jam 01.00 WIB. Ia ditangkap bersama 5 petinggi Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) usai mengirim surat somasi ke Restoran Social Kitchen, Solo.

Sekjen Jurnalis Islam Bersatu (JITU) Muhammad Pizaro menegaskan, Ranu sedang melakukan tugas jurnalistik saat ditangkap aparat polisi. Kendati demikian, Ranu dituding sebagai pelaku provokasi.

“Penangkapan terhadap Ranu merupakan tindakan yang mengancam kebebasan pers,” ujarnya di Lapas Kedungpane, Semarang.

Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Jurnalis Islam Bersatu (JITU) mengunjungi Ranu pada Senin (20/3). Mereka menjenguk dan memberikan dukungan moral kepada Ranu sebelum menjalani sidang.

Agenda sidang perdana yakni pembacaan surat dakwaan oleh jaksa penuntut umum. Tebalnya sekitar 20 halaman. Kepada Islamic News Agency (INA), Sekjen LUIS Endro Sudarsono mengungkapkan ada kejanggalan dalam persidangan perdana Ranu dan para petinggi LUIS.

“Penahanan di Polda Jateng dan sidang di PN Semarang ini tidak ada dasar hukumnya,” kata Endro di Lapas Kedungpane kepada kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu itu.

Pasalnya, Kejari Solo mengeluarkan berita acara surat penetapan PN Solo yang isinya mengabulkan perpanjangan penahanan selama 30 hari di Solo dan penetapan nama-nama hakim untuk sidang perdana.

Berdasarkan penelusuran INA, kronologisnya sebagai berikut: Pada 1 Maret telah keluar penetapan pengadilan mengabulkan penahanan Ranu beserta 5 petinggi LUIS di Rutan Solo. Pada 3 Maret, berita acara surat penetapan telah diteken. Lalu, pada 5 Maret, sedianya pelaksanaan pengadilan di PN Solo sudah bisa ditetapkan.

Reporter: Fajar Shadiq (INA)

blog comments powered by Disqus