hit tracker

Bangladesh Minta Myanmar Terima Lagi Pengungsi, Rohingya: Jika Kami Kembali, Mereka Bunuh Kami


Sejumlah pengungsi Muslim Rohingya menyelamatkan diri dari ancaman pembantaian oleh tentara Myanmar ke negara tetangga. (Foto: Mohammad Ponir Hossain/Reuters)

SALAM-ONLINE: Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina meminta PBB serta dunia internasional untuk menekan pemerintah Myanmar agar mau menerima kembali ratusan ribu etnis Rohingya yang terpaksa mengungsi ke negara-negara tetangga.

Dalam kunjungannya ke kamp pengungsian di Kutupalong, Sheikh Hasina mengatakan akan tetap menerima bantuan untuk para pengungsi serta menampung Muslim Rohingya yang melarikan diri dari ancaman pembantaian tentara Myanmar. Kendati demikian, dia tetap meminta Myanmar agar mau menerima kembali etnis minoritas di negara mayoritas penganut Budha tersebut.

Seperti diketahui, berdasarkan data PBB, jumlah pengungsi yang melewati perbatasan Myanmar menuju Bangladesh kini telah mencapai angka 370.000 orang. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah mengingat belum adanya tanda-tanda dihentikannya operasi militer di wilayah yang dihuni oleh Muslim Rohingya, yakni di provinsi Rakhine.

“Kami telah menyetujui di parlemen bahwa Myanmar harus memulangkan semua penduduknya kembali ke negaranya dan menciptakan suasana yang kondusif agar mereka pun mau kembali ke tempat asalnya,” kata Sheikh Hasina seperti dilansir Aljazeera, Rabu (13/9).

Untuk mengembalikan etnis Rohingya kembali ke tenpat asalnya tidak hanya dibutuhkan political will atau upaya dari pihak pemerintah, namun, situasi ini menjadi sangat sulit karena para pengungsi mengalami trauma yang sangat luar biasa atas apa yang mereka alami mereka selama berada di Myanmar.

“Apabila kami kembali, mereka akan membunuh kami. Bagaimana kami dapat melupakannya (kejadian), kami melihat bayi-bayi dilempar ke dalam kobaran api oleh pihak militer,” ungkap Rahima, pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Sementara itu, Hussain Johar, Muslim Rohingya yang mengungsi ke India, saat ini sangat mengkhawatirkan nasibnya di negara itu. Kekhawatiran itu muncul setelah Perdana Menteri India Narendra Modi berencana akan mendeportasi 40.000 pengungsi Rohingya kembali ke Myanmar.

“Orang-orang tidak bersalah dibantai, dan kami menghadapi ancaman genosida di negara sendiri. Dengan situasi seperti itu, bagaimana bisa terpikirkan untuk kembali (ke Myanmar)? Kami lebih memilih mati di sini (di India) daripada harus kembali,” ujar Hussain.

Presiden Zakat Foundation of India Zafar Mahmood menjelaskan, India merupakan negara yang cukup akomodatif terhadap pengungsi. Saat ini, India telah menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 30.000 pengungsi yang berasal dari negara-negara tetangga. Namun, Muslim Rohingya memiliki catatan tersendiri.

“Ini (menerima pengungsi) merupakan kebijakan India, di mana penganut Hindu yang datang dari mana pun diterima secara baik dan dapat memiliki visa menetap jangka panjang. Namun, jika Muslim yang datang, mereka akan dipersulit,” ungkap Zafar. (al-Fath/Salam-Online)

Sumber: Aljazeera

blog comments powered by Disqus